No Comments

Wijaya bertemu toner saat krisis moneter

Dampak lain meroketnya harga\xa0cartridge\xa0adalah merebaknya barang palsu. “Kasihan konsumen, sudah membayar mahal, tapi dapatnya barang palsu,” kata dia.

\n

Perubahan yang terjadi di pasar\xa0toner printer\xa0waktu itu menggelitik Wijaya. Di satu sisi, kebutuhan akan\xa0toner printer\xa0masih tinggi. Di sisi lain, banyak konsumen tak sanggup membeli\xa0toner\xa0asli yang mahal.

\n

Ia pun tergelitik mencari jalan tengah. Dari seorang teknisi\xa0printer, Wijaya mendapat informasi tentang teknik mengisi ulang\xa0cartridge printer\xa0dengan tinta. Pria kelahiran 17 Agustus 1969 ini pun meminta si teknisi tersebut mengajarinya cara mengisi ulang\xa0toner.

\n

Untuk memuaskan rasa ingin tahunya seputar teknologi\xa0refill cartridge,\xa0Wijaya berselancar di dunia maya. “Saya jadi tahu kalau bisnis ini cukup prospektif di Amerika,” ujar dia.

\n

Pada 2001, pria 45 tahun ini mantap menerjuni bisnis\xa0refill\xa0tinta\xa0printer. Lantaran ingin fokus, Wijaya menyetop usaha berdagang ATK, yang sudah dijalani sekitar 3 tahun–4 tahun.

\n

Jika saat merintis bisnis ATK, Wijaya mendapat pinjaman dari orangtua, maka ketika memulai usaha\xa0refill\xa0tinta untuk\xa0printer\xa0ia menggunakan tabungan\nsendiri. “Nilainya sekitar Rp 100 juta,” ujar pria yang lahir di Pekanbaru, Riau ini.

\n

Keberanian berputar haluan ini terbentuk dari perjalanan hidup Wijaya. Kendati lahir di keluarga yang akrab dengan dunia bisnis, Wijaya tak lantas berleha-leha. Sejak SMA, ia tinggal di Bandung, terpisah dari kedua orangtuanya yang memiliki toko emas di Padang. Kebiasaan hidup mandiri membuatnya berani memutuskan untuk merintis bisnis sendiri saat masih menempuh pendidikan di universitas. Usaha ATK itu bisnis pertama Wijaya.

\n

Begitu mantap berpindah haluan, Wijaya membuka\xa0workshop\xa0dan kantor pemasaran untuk bisnis tinta refill di kawasan Kelapa Gading. Ketika merintis bisnis barunya, Wijaya mengajak 10 karyawan yang membantunya di usaha perdagangan ATK.

\n

Wijaya sengaja memasang merek, yaitu Newton, untuk tinta refill buatannya. Penggunaan merek merupakan strategi Wijaya untuk bersaing dengan barang palsu. “Saya pikir konsumen akan memilih Newton karena jelas perusahaannya, ada layanan purnajual, dan\xa0back-up printer,” terang dia.

\n

Sedari awal pula, Wijaya mengincar pasar korporasi. Selama berbisnis ATK, dia melihat tingginya permintaan\xa0toner\xa0dari konsumen perkantoran. Sebagai produk alternatif\xa0cartridge\xa0orisinal, respons yang diterima Newton cukup baik.

\n

Bangun brand

\n

Dua tahun menjalani bisnis\xa0toner refill,\xa0Wijaya tersadar harga murah saja belum cukup memuaskan konsumen. Newton harus berinovasi demi meningkatkan kualitas produknya. Ayah dari dua orang anak ini mengembangkan produknya, dari refill toner menjadi\xa0remanufacturing toner.

\n

Bisnis Wijaya tak lagi mengisi ulang, melainkan mengisi tinta plus mengganti suku cadang\xa0cartridge. “Jadi, kami memproduksi ulang dan hanya memakai cangkang dari produk orisinal,” terang Wijaya.

\n

Dalam berproduksi, Wijaya tak kesulitan mendapatkan bahan baku. “Ada\xa0supplier\xa0yang datang. Saya juga mencari dari koran,” kata dia. Sementara itu,\xa0spare part\xa0dan tinta\xa0toner\xa0masih ia impor dari sejumlah negara, seperti Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat.

\n

Melengkapi posisinya sebagai produsen remanufacturing toner, Newton menawarkan berbagai jasa layanan lain ke pelanggan, seperti penyewaan unit\xa0printer. Ada juga aneka promo yang disiapkan bagi pelanggan. Wijaya menyadari pentingnya menjaga pelanggan karena di bisnis tinta, permintaan terus berulang. “Kualitas dan kecepatan menjadi pedoman kami,” kata Wijaya.

\n

Hasilnya? Klien Newton terus bertambah. Sebutlah Perusahaan-perusahaan besar: Mitra Adi Perkasa, Grup Astra, Bank Mandiri, BNI, dan B Braun.

\n

Roda bisnis Newton pun lancar berputar. Wijaya sempat menikmatinya. Hingga suatu saat, ia menyadari usahanya seakan berjalan di tempat. Newton seakan menemui jalan buntu dalam perjalanan bisnisnya.\xa0 Maklum, dia tak menemukan perusahaan sejenis yang bisa menjadi\xa0role model\xa0\xa0di Indonesia. “Sementara kami justru diikuti perusahaan lain,” kata Wijaya.

\n

Setelah rembukan bersama sang istri, yang juga menjadi mitranya mengelola Newton, Wijaya pun rajin menimba masukan dari aneka seminar bisnis. “Kami akhirnya mendapat\xa0insight\xa0untuk bermimpi yang lebih besar, yaitu membangun\xa0brand,” kata pria yang hobi membaca buku ini.

\n

Nah, untuk misi ini, Wijaya merasa tak cuma dengan autodidak. Ia merekrut konsultan, “Yang berperan sebagai penengah dan pemberi arah, ketika ada kebuntuan,” kata dia.

\n

Setelah mencetak penjualan\xa0toner remanufacturing\xa0sebanyak 4.000 unit per bulan, Newton pun memperluas misi usahanya, yaitu\xa0office print solution. Produk dan jasa yang ditawarkan mulai servis, rental hingga jasa\xa0print\xa0bagi perusahaan yang tarifnya dihitung per lembar kertas.

\n

Demi kepuasan konsumen pula, Newton membuka depo-depo, yang lebih dekat dengan konsumennya, seperti\xa0 di kawasan perkantoran.

\n

Berbagi peran dengan istri

\n

Kepercayaan konsumen menjadi kunci penting bagi bisnis Newton Technology, karena permintaan yang terus berulang. Itulah sebabnya, untuk menangani pelanggan yang terus bertambah, Wijaya Tanius mengajak sang istri, Veronica Wijaya, ikut terjun ke bisnisnya.

\n

Mereka pun berbagi peran. Wijaya yang terlihat lebih pendiam, lebih banyak mengurus hal-hal teknis di Newton Technology, termasuk urusan produksi dan pengembangan bisnis. Sementara itu, sang istri lebih aktif mengurus agenda pemasaran dan kegiatan\xa0customer care\xa0Newton. “Istri saya yang mengejar tim teknisi dan customer care, agar setiap keluhan pelanggan bisa tuntas dan beres,” kata Wijaya.

\n

Meski keluhan-keluhan yang diterima hanya berupa hal-hal kecil, seperti\xa0printer\xa0macet atau minta\xa0printer\xa0dibersihkan, Wijaya terus menjaga komitmen untuk tidak mengecewakan pelanggan. “Kalau mereka kecewa, mereka bisa dengan gampang beli di tempat lain,” kata dia beralasan.

\n

Selain mengurus pemasaran, Veronica juga mengambil kendali di bagian sumber daya manusia dan operasional. “Sejak awal pembagiannya memang begitu,” kata Wijaya yang bertemu Veronica di Jakarta ini.

\n

Tentu, bermitra usaha dengan pasangan hidup, ada plus minusnya. Nilai lebihnya, kata Veronica, komunikasi di antara mereka menjadi lebih lancar. Mereka berdua pun saling mengisi dan melengkapi.

\n

Untuk menjalin komunikasi yang lancar itu, masing-masing harus pandai-pandai melihat kondisi. “Kalau kondisi badan terlalu capek, jangan membicarakan hal-hal yang memancing konflik tentang pekerjaan di rumah,” papar dia.

\n

Jika ada masalah di usaha, sebaiknya ada orang ketiga yang menjadi mentor. Mereka mengakui, setelah menggunakan konsultan, koordinasi kerja semakin baik.

\n

Source : https://peluangusaha.kontan.co.id/news/wijaya-bertemu-toner-saat-krisis-moneter

\n\n

📌 Artikel Terkait

\n

\n\n

Sumber & Referensi

\n

\n\n

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

\n

Bagaimana sejarah berdirinya Newton Teknologi?

Newton Teknologi didirikan oleh Wijaya Tanius pada tahun 2001, berawal dari ide bisnis refill toner saat krisis moneter. Wijaya yang sebelumnya berbisnis ATK, melihat peluang di tengah mahalnya harga toner original. Ia mempelajari teknik refill cartridge printer dari seorang teknisi, lalu memulai usaha refill tinta printer dengan modal Rp100 juta dari tabungan pribadi. Kini Newton telah berkembang menjadi penyedia Office Print Solution terkemuka di Indonesia.

\n

Apa itu toner remanufacturing dan bagaimana Newton mengembangkannya?

Toner remanufacturing adalah produk toner yang tidak hanya diisi ulang tintanya, tetapi komponen cartridge seperti suku cadang juga diganti. Dua tahun setelah memulai refill, Newton mengembangkan produk ini sebagai inovasi untuk meningkatkan kualitas. Newton memproduksi ulang dengan memakai cangkang cartridge original yang diisi tinta plus komponen baru. Bahan baku tinta toner diimpor dari Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat.

\n

Layanan apa saja yang ditawarkan Newton saat ini untuk bisnis dan perkantoran?

Newton telah berevolusi dari produsen toner remanufacturing menjadi penyedia solusi cetak terintegrasi. Layanan Newton kini mencakup: refill dan remanufacturing toner, sewa printer untuk kantor, jasa service printer, serta Managed Print Services (MPS) dengan sistem tarif per lembar cetak. Newton juga membuka depo-depo di kawasan perkantoran untuk mendekatkan layanan ke pelanggan korporat.

\n

Mengapa Newton memilih fokus ke pasar korporasi sejak awal?

Wijaya melihat tingginya permintaan toner dari konsumen perkantoran selama ia berbisnis ATK. Dengan membangun merek Newton yang jelas, lengkap dengan layanan purnajual dan back-up printer, Newton berhasil meyakinkan perusahaan-perusahaan besar. Kunci sukses Newton adalah komitmen pada kualitas dan kecepatan layanan, yang membuatnya dipercaya oleh klien seperti Mitra Adi Perkasa, Grup Astra, Bank Mandiri, BNI, dan B Braun.

Berita
Berita

More Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.

WhatsApp 087 888 090 900